Informasi Wisata Kawah Putih di Bandung

Dikala ke Bandung, tidak terdapat kemauan lain kala menikmati bentang alam tidak hanya ke Kawah Putih Ciwidey. Makanya, aku langsung mengajak keluarga besar aku yang lagi mendatangi om di Kota Bandung. Terlebih, rumah om terletak di wilayah Soreang, Bandung Selatan yang lebih dekat dengan wilayah Ciwidey. Jadi, kemauan aku ini lekas dikabulkan.

Kami berangkat saat sebelum tengah hari. Di tengah ekspedisi ke arah kawah Putih, kami singgah sejenak menyantap nasi timbel di suatu warung masakan sunda. Ah, nikmat sekali. Pedasnya masakan itu betul- betul jadi obat yang ampuh di tengah dinginnya hawa Bandung.

Butuh dekat 30 menit dari rumah om kami sampai kami datang di loket. Selepas membayar tiket masuk serta parkir, nyatanya kami wajib berkendara sepanjang kurang lebih 5 kilometer mengarah pintu masuk. Dengan jalur berliku serta pepohonan di kanan kiri yang sejuk, ekspedisi panjang itu seolah tidak berasa.

Bila tidak bawa mobil, wisatawan dapat menaiki ontang- anting– sejenis angkot– dari arah pintu masuk. Uniknya, berbeda dengan angkot pada biasanya, kendaraan ini tidak mempunyai kaca. Dia dibiarkan saja terbuka sehingga wisatawan dapat menikmati segarnya hawa. Jika saja kami tidak bawa mobil, tentu kami hendak menaikinya. Lantaran telah terdapat mobil yang dapat hingga ke dekat pintu masuk, kami cuma butuh duduk manis.

Sekira 10 menit setelah itu, sampailah kami di tempat parkir. Dikala mengarah pintu masuk, banyak penjaja masker yang menjual benda dagangannya. Tanpa pikir panjang, kami lekas membelinya lantaran dari cerita yang kami bisa, bau belerang di Kawah Putih sangat pekat. Masih wajib berjalan kaki lagi, kami juga bergairah buat mengarah zona kawah.

Sampai kesimpulannya, corak biru toska dari Kawah Putih nampak samar- samar. Aku sangat bersemangat serta senang lantaran dapat memandang langsung salah satu keunikan alam di Bandung ini. Walaupun rupanya tidak putih semacam namanya, itu tidak permasalahan. Corak kawah yang unik ini malah menyuguhkan energi tarik. Terlebih, asap pekat yang keluar dari bibir kawah terus menjadi membuat aku takjub.

Aku seolah terletak di negara dongeng yang kerap aku baca di novel ataupun majalah. Suasananya berbeda sekali. Pohon- pohon yang meranggas serta bebatuan putih yang memagari sisi kawah membuat keelokan itu terus menjadi paripurna. Terlebih, aku tiba dikala senja menjelang, berkas cahaya mentari yang tipis memancari bibir kawah. Refleksi sinar yang dihasilkan betul- betul cocok.

Kami mengambil gambar di sebagian sudut kawah. Mulai dari di dekat bebatuan, jembatan, sampai mendekati bibir kawah. Kami wajib hati- hati sebab air kawah yang sangat panas. Makanya, peringatan buat tidak sangat mendekati bibir kawah terpajang

di bermacam sudut. Ini berarti supaya wisatawan senantiasa berjaga- jaga.

Kawah Putih sendiri ialah danau yang tercipta dari letusan Gunung Patuha. Gunung ini merupakan salah satu gunung berapi aktif di Jawa Barat. Sebagian pendaki aku temui dikala terletak di Kawah Putih ini. Entah dari mana jalan pendakian yang terdapat, yang jelas mereka nampak bersemangat buat mengawali pendakian ke gunung tersebut dari Kawah Putih.

Dikala hari terus menjadi senja, kami juga mulai turun meninggalkan posisi. Tidak hanya kabut yang terus menjadi pekat, adik serta sepupu aku mulai hadapi sesak napas sebab tidak terbiasa terletak di ketinggian. Hawa yang dingin pula terus menjadi menusuk kulit. Saat sebelum kami beranjak kembali, aku menyempakan buat membeli oleh- oleh berbentuk batu serta serbuk belerang. Bagi para penjual, manfaat batu serta serbuk belerang ini sangat banyak. Misalnya, menyembuhkan asam urat, penyakit kulit, serta mengobati cedera. Dengan harga Rp. 5. 000 saja, satu bungkus produk tersebut juga kami beli.

Tidak terdapat perkata lain yang dapat menggambarkan kepuasan mendatangi Kawah Putih ini. Suatu karunia Tuhan yang harus disyukuri.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*